Berita Yasinta

Tanggal Lahir Nabi Muhammad SAW: Sejarah, Kisah, dan Perayaan Maulid di Dunia Islam

Facebook
Telegram
WhatsApp

Tanggal Lahir Nabi Muhammad SAW: Sejarah, Kisah, dan Perayaan Maulid di Dunia Islam

Tahukah kamu, tanggal lahir Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal bukan sekadar catatan sejarah?

Hari ini adalah momen besar yang selalu dirayakan jutaan umat Muslim di seluruh dunia.

Peringatan ini kita kenal dengan Maulid Nabi Muhammad SAW, sebuah peringatan penuh makna. Bukan hanya tentang kelahiran manusia agung yang membawa risalah Islam, tapi juga tentang bagaimana ajaran beliau tetap hidup hingga sekarang—menuntun umat manusia pada cinta, damai, dan kebaikan.

Kelahiran Nabi Muhammad SAW: Fajar Perubahan Dunia

Nabi Muhammad SAW lahir pada tahun 570 Masehi di kota Makkah. Tahun ini dikenal sebagai Tahun Gajah, sebuah periode bersejarah ketika pasukan bergajah Abrahah gagal menyerang Ka’bah. Peristiwa besar itu seakan menjadi isyarat bahwa kelahiran Nabi akan membawa cahaya baru bagi dunia.

Sejak kecil, perjalanan beliau dipenuhi ujian.

  • Ayahnya, Abdullah, wafat sebelum beliau lahir.
  • Sang ibu, Aminah, juga berpulang ketika Nabi masih belia.
  • Beliau lalu diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib, hingga akhirnya pamannya, Abu Thalib, mengambil tanggung jawab itu.

Meskipun tumbuh sebagai yatim piatu, Muhammad muda justru menunjukkan keteguhan hati. Dari tanah Makkah yang kala itu penuh dengan praktik jahiliyah, Allah mengutus beliau sebagai Rasul terakhir, pembawa risalah yang mengubah wajah dunia.ngutus beliau sebagai Rasul terakhir, pembawa cahaya Islam untuk seluruh umat manusia.

Sejarah Awal Perayaan Maulid Nabi

Lalu, bagaimana asal mula peringatan Maulid Nabi?

Sejarah mencatat, peringatan kelahiran Nabi sudah ada sejak abad ke-2 Hijriah. Beberapa sumber menyebut tradisi ini berkembang pada masa Dinasti Fatimiyah di Mesir. Ada juga yang mengaitkannya dengan kepemimpinan Salahuddin Al-Ayyubi, yang mengadakan Maulid untuk membangkitkan semangat umat dalam jihad dan persatuan.

Sejarawan Ahmad Tsauri, dalam bukunya Sejarah Mawlid Nabi, menjelaskan bahwa tradisi Maulid bahkan telah digalakkan sejak masa-masa awal Islam. Salah satu tokoh penting yang mendorongnya adalah Khaizuran, istri Khalifah al-Mahdi bin Mansur.

Dari sinilah, perayaan Maulid Nabi berkembang dan menyebar ke berbagai wilayah Muslim hingga kini menjadi tradisi global yang hidup di setiap generasi.

Tradisi Maulid Nabi di Indonesia

Di Indonesia, masyarakat merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan cara yang sangat unik, karena budaya lokal berpadu dengan nilai religius.

Di Jawa, umat Islam biasanya mengisi perayaan dengan membaca kitab Barzanji atau Simthud Durar. Setelah itu, mereka melanjutkan dengan doa bersama, lalu makan bersama sebagai simbol kebersamaan.

✨ Selain itu, Di keraton-keraton Jawa tradisi ini dikenal dengan nama Grebeg Mulud. Perayaan besar ini menampilkan arak-arakan gunungan hasil bumi. Setelah diarak, gunungan tersebut diperebutkan masyarakat sebagai simbol berkah.

✨ Lebih lanjut, Di Sulawesi Selatan, masyarakat melaksanakan tradisi Maudu Lompoa atau Maulid Akbar. Dalam perayaan ini, mereka membuat perahu Pinisi yang dihias indah, lalu mengisinya dengan hasil bumi sebelum diarak ke laut atau sungai.

Dengan demikian, tradisi-tradisi tersebut bukan sekadar seremonial, tetapi sekaligus menjadi wujud syukur, rasa cinta, serta penghormatan nyata umat kepada Rasulullah SAW.

Makna Spiritual Maulid Nabi Muhammad SAW

Lebih dari sekadar ritual, Maulid Nabi adalah momentum untuk kita merenungkan kembali perjuangan beliau.

Nabi Muhammad SAW bukan hanya seorang pemimpin besar, tapi juga teladan akhlak yang mulia. Kita patut mencontoh bagaimana karakter beliau di keseharian.

  • Pertama, sabar dalam menghadapi cobaan,
  • Kedua, jujur dalam ucapan,
  • Ketiga, penuh kasih sayang terhadap sesama,
  • dan keempat, rendah hati meski memiliki kedudukan mulia.

Melalui Maulid, kita diajak untuk kembali meneladani beliau. Banyak masjid dan pesantren mengadakan kajian sirah nabawiyah, ceramah agama, hingga majelis shalawat yang memperdalam pemahaman tentang Islam, sekaligus menumbuhkan cinta kepada Nabi.

Meneladani Rasulullah di Kehidupan Sehari-hari

Tanggal 12 Rabiul Awal bukan hanya untuk dikenang, tapi untuk dijadikan titik balik.

Meneladani Rasulullah bisa diwujudkan dalam hal-hal sederhana sehari-hari:

  • berlaku adil dan jujur dalam pekerjaan,
  • menyayangi keluarga dengan kasih sayang,
  • menjaga lisan agar tidak menyakiti,
  • menebar perdamaian dan persaudaraan.

Karena sejatinya, cinta kepada Nabi bukan hanya diucapkan, tapi diwujudkan dalam amal nyata.

Penutup: Maulid Sebagai Jalan Cinta

Tanggal lahir Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal, adalah salah satu momen paling berharga dalam sejarah Islam. Peringatan Maulid Nabi tidak boleh berhenti pada seremonial semata. Ia adalah panggilan untuk memperkuat iman, menambah ilmu, dan menumbuhkan cinta kepada Rasulullah SAW.

Semoga dengan mengenang beliau, kita semakin mampu meneladani akhlaknya di tengah tantangan kehidupan modern. Sebab Rasulullah adalah cahaya yang selalu relevan bagi umat manusia, sepanjang zaman.

Rayakan Maulid Nabi dengan Amal Nyata

Salah satu bentuk cinta kepada Rasulullah adalah dengan peduli pada sesama. Mari kita sempurnakan peringatan Maulid Nabi dengan berbagi rezeki untuk mereka yang membutuhkan.

🤲 Sedekahmu, sekecil apapun, bisa menjadi penerang harapan bagi mereka yang sedang berjuang.

Klik sekarang 👉 yasinta.or.id
dan jadikan Maulid Nabi tahun ini sebagai titik awal untuk lebih dekat kepada Allah dan lebih peduli pada sesama.

× Apa yang bisa kami bantu?